Welcome

Sabtu, 02 Januari 2010

kesuksesan bimbingan & konseling

.

Pengertian Bimbingan
-Secara etimologis bimb merup. terjemahan dari kata “Guidance” berasal dari kata kerja to guide yg mempunyai arti menunjukkan, membimbing, menuntun, dan sekaligus membantu (Hallen). Namun tdk semua bentuk bantuan merup bimbingan.
-Kata Guidance berarti bimb, pimpinan, petunjuk, pedoman bantuan;kata guidance dipergunakan utk pengertian bimbingan/ pertolongan. Winkel (1997) mengatakan Guidance bila dikaitkan dg kata asal “Guide” yg diartikan sbg: showing the way (menunjukkan jalan), leading (memimpin), conducting (menuntun), giving instruction (memberikan petunjuk), regulating (mengatur), governing (mengarahkan), dan giving advice (memberikan nasihat).
- Prayitno menyatakan :
Bimb merup proses pemberian bantuan yg dilakukan oleh orang yang ahli kpd seseorang/beberapa org individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa, agar org yg dibimbing dpt mengembangkan kemampuan dirinya sendiri, dan mandiri dg memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yg dpt dikembangkan berdasarkan norma-norma yg berlaku.
Secara istilah bimb menggunakan akronim yaitu:
B = bantuan
I = individu
M = mandiri
B = bahan
I = interaksi
N = nasihat
G = gagasan
A = asuhan
N = norma
Istilah tsb ditegaskan bimb adlh bantuan yg diberikan kpd individu agar individu itu mandiri, dg mempergunakan berbagai bahan, interaksi, nasihat dan gagasan, dlm suasana asuhan dan berdasarkan norma-norma yg berlaku.
- Hallen menyatakan:
Bimb merup proses pemberian bantuan yg terus menerus dari seorang pembimbing yg telah dipersiapkan kpd individu yg membutuhkan dlm ragka mengembangkan seluruh potensi yg dimilikinya secara optimal dg menggunakan berbagai macam media dan teknik bimbingan dlm suasana asuhan agar mencapai kemandirian, shg individu dpt bermanfaat baik bagi dirinya sendiri maupun bagi lingkungannya.
-UUSPN No 20 Tahun 2003, dinyatakan:
Bimb merup bantuan yg diberikan kpd siswa dlm rangka upaya menentukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan.
- Natawidjaya, menyatakan:
Bimb adlh proses pemberian bantuan kpd individu yg dilakukan scr terus menerus, supaya individu dpt memahami dirinya, shg ia sanggup mengarahkan diri dan dpt bertindak sesuai dg tuntutan keadaan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Dari pengertian diatas disimpulkan bhw bimb merup bantuan yg diberikan kpd klien agar potensi yg dimiliki mampu mengembangkan diri scr optimal dg jalan memahami diri, dpt mengatasi kesulitan.

Di samping itu beberapa hahikat bimbingan sbb:
1. Bimb merup suatu proses yg diberikan scr sistematis, berencana, terus menerus kpd tujuan tertentu.
2. Bimb meru proses bantuan thdp individu.
3. Bantuan yg diberikan kpd setiap individu, baik anak-anak, remaja, dewasa maupun org tua, baik sekolah maupun luar sekolah, (guidance for all).
4. Bantuan yg diberikan melalui perlayanan bimbingan bertujuan agar individu dpt mengembangkan dirinya secara oftimal sesuai dg potensi yg dimiliki.
5. Sasaran dlm bimbingan adlh klien
6. Utk mencapai tujuan bimbingan, maka digunakan suatu pendekatan pribadi atau kelompok.
7.Layanan bimb menggunakan berbagai teknik yg dilaksanakan dlm suasana asuhan yg normatif. seperti; budaya Indonesia yg dikenal dg istilah Tut Wuri Handayani, Ing Madya Mangun Karso, Ing Ngarso Sung Tulodo.
8. Utk melaksanakan kegiatan bimbingan diperlukan adanaya personil yg ahli dan pengalaman khusus dlm bid bimbingan.

Pengertian Konseling
- Sukardi menyatakan:
Konseling yaitu pertemuan empat mata antara klien dan penyuluh yg berisi usaha keras, unik yg dilakukan dlm suasana keahlian dan didasarkan atas norma-norma yg berlaku.
- Hallen menyatakan:
Konseling merup salah satu teknik dlm pelayanan bimbingan dg proses pemberian bantuan melalui interviu secara lgsng dan tatap muka antara konselor dg klien; dg tujan agar klien mampu memperoleh pemahaman diri yg lebih baik, mampu memecahkan masalah yg dihadapi dan mampu mengarahkan dirinya utk mengembangkan potensi yg dimiliki, shg mencapai kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.
- Prayitno (1999) merincikan yaitu:
P = pertemuan
E = empat mata
N = klien
Y = penyuluh
U = usaha
L = laras
U = unik
H = human (manusia)
A = ahli
N = norma
-Dpt disimpulan konseling adlh pertemuan empat mata antara klien dg penyuluh yg sdg menempuh usaha secara laras, unik, dan manusiawi yg bersifat kahlian berdasarkan norma-norma yg berlaku. Sdgkn konseling direncikan sbg:
K = kontak
O = orang
N = menangani
S = masalah
E = expert (ahli)
L = laras
I = integrasi
N = norma
G = guna
-Jadi konseling adlh kontak antara dua orang utk menagani masalah dlm suasana keahlian yg laras dan terintegrasi berdasarkan norma-norma yg berlaku, utk tujuan-tujuan yg berguna bagi klien.


Hub Bimb dg Konseling
-Istilah tsb identik, tdk trdpt perbedaan yg mendasar antara guidance dan conseling. Disisi lain guidance dan counseling merup dua pengertian yg berbeda dan mempunyai kegiatan yang sejajar.
Dlm hal ini counseling lebih identik dengan psychotherapy (usaha untuk menolong dan gangguan psikis) Sdgk guidance lebih identik dg pendidikan).
- Counseling merup salah satu teknik layanan dari bimb. Wawasan bimb lebih luas daripada konseling scara keseluruhan (face to face relationship). Di samping itu bimb itu lebih luas dari konseling, sdg konseling merup alat yg paling penting dari usaha pelayanan bimbingan.
- Maka hubungan guidance dan counseling sangat erat sekali, dan mempunyai kesamaan,
- Bimo Walgito menjelaskan:
a) Counseling adlh salah satu metode dari bimb dlm pengertian bimb lebih luas dari counseling. Krn itu counseling merup “guidance”, tetapi tdk semua bentuk “guidance” merup counseling.
b) Counseling telah ada masalah yg dihadapi individu (counselee). Sdg bimb tdk demikian. Bimb bersifat preventif (pencegahan), sdg counseling bersifat korektif (penyembuhan). Bimbingan dpt diberikan sekalipun tdk adanya suatu masalah.
c) Konseling pada prinsipnya dijalankan scr individu yaitu Counselor dg Couselee scr face to face. Sdg pada guidance dijalankan secara kelompok, misalnya bimbingan belajar di kelas.
- Dg persamaan dan perbedaan, bukanlah memisahkan kedua pengertian itu, krn dlm praktek saling berhub dan membutuhkan antara keduanya, di mana bimbingan menyangkut counseling dan sebaliknya, tetapi bimb bukan bagian dari counseling, sdg counseling merup bagian dari bimbingan.
Tujuan Bimbingan dan Konseling
1. Membantu S/M dlm mencapai tujuan pend
2. Membantu pesdik utk mencapai tujuan dg baik
3. Membtu pesdik dlm megatasi kesukaran
4. Membantu pesdik dlm mengembangkan kemampuannya
5. Membantu pesdik dlm memilih pekerjaan maupun jurusan.
Tujuan di atas, dpt dilihat atas:
1.Daya tampung utk memahami diri sendiri, menerima dan dpt mengarahkan dirinya.
2.Kemampuan dlm memecahkan berbagai kesulitan, dan menyesuaikan diri dg lingkungannya.
3.Dpt mencapai kbhagiaan yg bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.

Tujuan BK secara umum adalah:
a.Hilangnya perasaan putus asa, rendah diri, mudah tersinggung dan lain-lain,
b.Memupuk rasa harga diri dan percaya diri serta kemampuan diri,
c.Kesiapan pesdik scr psikologis agar mrk tdk merasa minder di tengah masyarakat.
Winkel (2004) menyebutkan tujuan BK utk menunjang perkembangan pesdik yaitu:
a. memperdalam konsep diri,
b.mengbgkan hub sosial dg teman sebaya
c.meningkatkan disiplin dlm hidup dan disiplin diri dan
d.membantu pesdik mencapai sukses dlm studi akademik.

Tujuan BK Sec. Islami Utk:

1. Menghasilkan perubahan perilaku, perbaikan kesehatan, kebersihan jiwa dan mental, jiwa menjadi tenang dan damai (mutmainnah)
Fungsi Bimbingan dan Konseling

Fungsi Preventive (pencegahan)

Dalam fungsi pencegahan pesdik dpt terhindar dari berbagai macam mslh yg menghambat perkembangan. Seperti program orientasi, bimb. karir (career guidance), inventarisasi data dan lain-lain. Fungsi pencegahan yaitu fungsi BK yg akan menghasilkan terhindarnya pesdik dari berbgi problem yg berhubungan dg masalah belajar.

Fungsi Presentative (pemeliharaan )
Dalam pelayanan BK fungsi ini utk memelihara dan pengembangan suasana dan situasi yang baik, agar tetap baik dalam usaha belajar mengajar. Fungsi pemeliharaan dan pengembangan dilaksanakan melalui berbagai pengaturan, kegiatan dan program.

Fungsi Curative (penyembuhan/pengentasan)
Fungsi penyembuhan dalam layanan bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada pesdik setelah mengalami kesulitan selama ia menghadapi masalah. Melalui pengentasan ini pelayanan BK akan menghasilakn

Fungsi Rehabilition (perbaikan)
Disamping fungsi pencegahan, pemeliharaan dan penyembuhan yang telah dilakukan, mungkin pesdik masih menghadapi problem tertentu. Disinilah letaknya fungsi dalam perbaikan memecahkan problem yang dihadapi pesdik .

Macam-macam Bimbingan & Konseling

a. Layanan Umum Bimbingan
Layanan umum bimb. yaitu layanan bimb. yg sasarannya mencakup berbagai dimensi bimb. lingkup sekolah. Seperti:
1. Layanan Pengumpulan Data
Pengumpulan data (appraisal) yaitu seperangkap kegiatan bimb. dlm upaya mendapatkan keterangan yang dibutuhkan bagi kegiatan layanan bimb. yg berkaitan dengan pendidikan dan dunia kerja.
2. Layanan Pemberian Informasi
Pemberian informasi yaitu kegiatan bimb. dlm memberikan informasi kpd pihak yg memerlukan. Hal ini mencakup usaha-usaha utk membekali pesdik dg pengetahuan serta pemahaman lingkungan hidupnya. Ling. hidup pesdik mencakup; ling. sekolah sendiri, keluarga, sekolah lanjutan, dunia pekerjaan, dan ling. masy luas. Winkel (1997: 33) mengatakan tata tertib sekolah, cara belajar yg baik, program-program kegiatan ekstra kurikuler di sekolah, program studi di PT sbg persiapan untuk masa depannya.
3. Penilaian dan Penelitian
Layanan penilaian merup. sebagian usaha bimb. yg berkenaan dgn usaha terhadap program bimb. dan sampai sejauh mana pencapaian tuj. prog bimb sec. umum.
Dlm hal ini tugas bimbingan dalam layanan penilaian dan penelitian antara lain:
* Menelaah perencanaan program bimb. yg telah disusun, apakah program tsb sudah sesuai dgn kemampuan fasilitas sekolah?.
* Menelaah kecakapan, keterampilan dan kreatifitas konselor dlm hubungan dg bimbingan.

4. Penyediaan Situasi dan Kondisi Kerja
a. Menciptakan dan meningkatkan sikap yg positif bagi personil sekolah, orang tua, dan masy terhdp bimb.
b. Menciptakan kerja sama dan memantapkan rasa aman terhdp pesdik dalam penyelenggaraan bimbingan.

b. Layanan Khusus Bimbingan
Layanan khusus bimb adalah layanan yg berkaitan dg pelaksanaan program bimb dlm lingkup sekolah terhdp pesdik (klien). Layanan bimb. al:
1. Layanan Orientasi
Layanan ini merupakan kegiatan untuk mengenalkan pesdik dg berbagai program seperti mengenalkan keadaan fasilitas sekolah. Sukardi (1995:31) mengatakan fasilitas merup factor yg sangat menentukan dlm pelaksanaan prog BK. Maksudnya agar mereka mengenal berbagai seluk beluk sekolah yg baru dimasukinya.
2. Layanan Pengumpulan Data
Layanan ini merup serangkaian bimb dlm usaha memperoleh keterangan yg lengkap ttg pesdik dan lingkungan. Dg data tsb dpt menunjang proses membantu pesdik utk memahami diri dan lingkungan dlm bid. Penddk shg dpt memecahkan suatu masalah.
3. Layanan Pemberian Informasi
Layanan ini merup serangkaian bimb dlm usaha memberikan informasi kpd pesdik, shg dpt memahami diri, ling, membuat pilihan dan dpt memecahkan masalah yg dihadapinya.
4. Layanan Penempatan (Placement)
Penempatan merup serangkaian kegiatan dlm membantu pesdik, agar dpt menyalurkan dirinya dlm berbagai prog sekolah, seperti persiapan menuju ke penddik yg lebih tinggi berdasarkan potensinya.
Menurut Sukardi (1995: 96) tujuan layanan penempatan adalah sebagai berikut:
a. Agar setiap pesdik dpt menempati posisi yg sesuai dg potensinya, baik dlm kegiatan belajar di sekolah maupun dalam persiapan menuju dunia kerja.
b. Agar setiap pesdik dpt menempati posisi sesuai dg tingkat perkembangan, baik dlm kegiatan belajar di sekolah maupun dalam persiapan menuju ke dunia kerja.
5. Layanan Konseling
Layanan ini merup bagian paling pokok dari bimb dlm membantu client sec. tatap muka, agar client dpt mengambil keputusan sendiri terhdp masalah yg dihadapi. Mengambil tanggung jawab sendiri berarti client diharapkan memiliki kecakapan dlm pilihan menyesuaikan diri, memecahkan kesulitan dan sebagainya.
6. Layanan Pengiriman (Referral)
Menurut Mappiare (1984: 231) layanan pengiriman adalah seperangkat kegiatan dlm usaha membantu pesdik memperoleh layanan bantuan dari ahli sesuai dengan sifat dan keunikan persoalan yang dihadapi pesdik. Layanan ini diperlukan, karena bimb memiliki batas wewenang dlm membantu client. Petugas yang berwenang tdk dlm lingkup sekolah seperti: dokter dikirim guna memperoleh pemeriksaan kesehatan, guru ahli remedial teaching pesdik dikirim utk penddik khusus.
7. Layanan Tindak Lanjut (Follow Up)
Tindak lanjut yaitu serangkaian kegiatan bimb dg melanjutkan usaha yg telah dilaksanakan sebelumnya. Sukardi (2002: 213) menegaskan bhw tindak lanjut adlh suatu bagian integral dari penempatan karena hal tsb merup perkembangan dari proses perencanaan dan penempatan, maka dlm hal ini pesdik dibantu utk keperluan dlm penilaian perkembangan pribadi dlm menyangkut tujuan jangka panjang dan jangka pendek.
Dan menurut Winkel (1997: 559) tindak lanjut (follow up) merup kegiatan bimb yg dilakukan sesudah pesdik memasuki jalur prog studi akademik, prog persiapan prajabatan atau jabatan tertentu.
Pada tindak lanjut konselor berwawancara dg klient guna membicarakan suatu masalah yg berkaitan dg pilihan yg telah dibuat. Apakah masalah tsb dpt berupa penyesuaian diri atau kesulitan menghadapi kegagalan?
Sukardi (2002: 326) berpndpt bhw tindak lanjut pesdik diperlukan utk (1) informasi tentang seberapa baik pesdik dpt melakukan setelah mereka menyelesaikan sekolahnya, (2) membantu pesdik menyadari mslh yg terjadi pada masa terdahulu, (3) mendapat penilaian program dan layanan sekolah, dan (4) memperoleh ide-ide utk perbaikan atau peningkatan layanan sekolah.
Dari pendpt di atas, studi lanjutan adalah merup usaha utk menelaah hasil layanan yg pernah diberikan oleh lembaga kepada pesdik, melakukan penelaah layanan khusus seperti program remedial.
Sejarah Bimbingan dan Konseling.
1. Perkembangan Bimbingan Pada Umumnya
BK merup suatu ilmu yg masih baru, dibandingkan dg ilmu-ilmu lain. Bila diperhatiakan BK timbul sekitar permulaan abad ke-20 yg dipelopori oleh tokoh-tokoh dari AS seperti: Fran Parson, Jesse B. Davis, John Brewer lihat Mathewso (t.t: 46) di negara yg sama sekitar tahun 1908.
Pada th 1908 “Fran Parsons” dikenal sbg the father of guidance, karena dia menemukan pentingnya pemberian pertolongan kepada setiap individu agar mereka dpt mengenal berbagai kekuatan dan kelemahan yg pada dirinya, dg tujuan agar dpt dijadikan dan dipergunakan intelegent dlm memilih pekerjaan yang tepat bagi dirinya. Selanjutnya Bimbingan dan konseling dapat berkembang dengan pesat. Setelah mengalami perkembangan “Parsons” mendirikan suatu badan dengan istilah Vocational Guidance sebagaimana pandangan Walgito (1993: 17) yang meliputi: Vocational Choices (pilihan jabatan) dan Vocational Training (latihan jabatan) yang diharapkan akan adanya efisiensi dalam lapangan pekerjaan. Setelah itu beliau mengusulkan masalah bimbingan jabatan (vocational guidance) dimasukkan kedalam kurikulum sekolah.
Th 1909 Frank Parsons mengeluarkan buku yg mengupas ttg pemilihan jabatan (vocational choices). Dalam pemilihan jabatan ini merup salah satu aspek penting dlm lapangan BK. Th 1910-1916 Jesse B. Davis dan John Brewer di New York (University Harvard) beliau semakin bergerak dlm bid BK baik penddk maupun lapangan pekerjaan pemilihan jabatan dan beliau memberikan kuliah ttg guidance and counseling disamping sebagai school counselor.
Dlm perang dunia I dan II masalah BK nampak perubahan di masy, shg anak yg tdk sekolah dpt bersekolah guna mengembangkan kemampuan tekhnologi, diwajibkan belajar dsb. Perubahan bagi masy semacam ini mendorong para pendidik memperhatikan pesdik sesuai dengan kebutuhan mereka shg mereka mampu menyelesaikan pendidikan sampai berhasil. Demikian pula pada waktu itu BP banyak yang bergerak dlm lapangan ketentaraan dengan maksud untuk mengembalikan para tentara yg baru datang dari medan pertempuran agar kembali ke masy. (asal).

Pandangan Arthur E. Tracler and Robert dalam bukunya “Techniques of Guidance” (dlm Ahmadi, 1991: 10-11) menyebutkan peristiwa penting yg mewarnai perkembangan sejarah Guidance and Counseling diantaranya:

a. Akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, timbul gerakan kemanusiaan yg menitikberatkan pada kesejahteraan manusia dan kondisi sosialnya. Gerakan ini Vocational Bereau Parsons dalam bidang keuangan agar dpt menolong anak muda yg tdk melaksanakan pekerjaan dengan baik.
b. Agama. Para Rohanian berpendapat bhw dunia adalah dimana ada tantangan yg terus menerus antara baik dan buruk, maka dari itu bantuan sekolah guna menyiapkan anak muda, sehingga mampu menghadapi kehidupan yang lebih baik, berkepribadian dan bermoral baik yg sangat memerlukan bantuan. Dgn adanya gerakan ini dpt mendorong tumbuhnya gerakan khususnya bimbingan di sekolah.
c. Aliran Mental Hygiene, timbul dgn tujuan perlakuan manusiawi trhdp berbagai gejala penyakit jiwa (psikologis) dan perhatian ttg pengobatannya dan pemecahannya. Dgn adanya kesadaran bhw penyakit ini bisa diobati lebih awal. Gerakan ini mendorong para pendidik utk lebih peka trhdp masalah gangguan psikologis, rasa tidak aman dan kehilangan identitas pesdik.
d. Perubahan dalam lingkungan masy, perubahan ini akibat dari perang dunia I dan II, adanya pengangguran, depresi, perkembangan tekhnologi, sekolah tanpa mengetahui utk apa mereka berekolah. Perubahan masy semacam ini mendorong para pendidik untuk memperhatikan setiap pesdik sesuai dgn kebutuhannya, shg dpt menyelesaikan penddk dg baik
e. Gerakan mengenal pesdik sbg individu. Gerakan ini erat kaitannya dgn gerakan test dan pengukuran bimb di sekolah karena tugas sekolah utk mengenal dan memahami pesdik secara individual, karena hal semacam ini sulit dilakukan, maka lahirlah berbagai teknik dan instrument diantaranya test dan pengukuran.
Jadi sejarah BK, berfungsi sbg pelayanan bimb di sekolah. Perkembangan BK di sekolah semakin menunjukkan berbagai kemajuan, bahkan dewasa ini dgn adanya perkembangan pendidikan di Indonesia semakin berkembang, sangat dirasakan perlunya diadakan BK mulai dari SD-PT.

2. Perkembangan Bimbingan dan konseling di Indonesia

a. Bimbingan dalam periode Benih (1922-1960)
Winkel (1997: 79) menunjukkan gerakan dlm sejarah diknas mengandung benih-benih bimb yaitu asas Perguruan Nasional Taman Pesdik th 1922 yg menandaskan dasar kebebasan bagi setiap orang utk mengatur dirinya serta keharusan pesdik berusaha atas kekuatannya sendiri.
Kemudian diikuti dg metode dan paktek- praktek sekolah th 1926 M. Syafi’i mendirikan sekolah yg merup benih-benih bimb karir/jabatan yg pertama kali. Kemudian menandaskan perlunya inisiatif dan rasa tanggung jawab serta memberikan kesempatan kpd pendidik utk mengembangkan suatu ketrampilan yg cocok baginya. Setelah Indonesia merdeka tgl, 17 Agustus 1945, terbentuklah bbrpa kementerian, seperti Kementerian PdanK pd waktu itu mendirikan SGB yg dipimpinan oleh M. Syafi’i.
Beliau mendpt kepercayaan memberikan latihan kpd guru-guru SD dan mempraktekkan mata pelajaran guna mempersiapkan diri utk memegang suatu pekerjaan (jabatan). Dgn dua bidang tbt di atas , menunjukkan adanya suatu usaha sungguh-sungguh utk mendptkan orang-orang yg ingin bekerja, di samping memberikan latihan dlm persiapan kerja yg sesuai dgn potensinya. Setelah itu muncul bbp bimb. jabatan (Vocational Guidance) dibeberapa daerah seperti “Balai Pembinaan Administrasi” (BPA) yg didirikan di Yogyakarta, akhirnya sebagian tugasnya memberikan latihan kerja (job training), kpd pegawai-pegawai dlm meningkatkan efisiensi kerja serta latihan jabatan bagi kepala Kantor Pemerintahan Kodya Yogyakarta.

b. Bimbingan Pendidikan Formal dalam Periode Pertumbuhan (1960-1971)
Pembahasan bimb dlm pend formal dimulai 1960, mengadakan konferensi FKIP (sekarang IKIP) seluruh Indonesia. Walgito (1993: 19) mengatakan adanya konferensi FKIP seluruh Indonesia yg diselenggarakan di Malang dari tgl 20-24 Agustus 1960, dan memutuskan bhw BP dimasukkan dlm kurikulum FKIP, dg adanya langkah yg lebih maju mengupas masalah BP sbg suatu ilmu yg ilmiah. Instruksi dari pihak Pemerintah BP semakin maju di lingkungan sekolah-sekolah.
Kemudian setelah adanya instruksi dari pemerintah 1962 melaksanakan BP di sekolah menengah, saat terjadi perubahan sistem pend dari SMA sistem lama ttg jurusan A, B dan C diganti dg SMA sistem baru yg menggunakan jurusan seperti ilmu pasti, sosbud. Sejak 1962 BK telah dirasakan sbg kebutuhan. Kebutuhan tsb sebagai upaya penyaluran pesdik pada jurusan yg sesuai dg kemampuan individual. Setelah itu bimb dilaksanakan di SD-PT, dlm keadaan sederhana krn kurangnya tenaga yang profesional.
Dua thn kemudian Depdikud pada seksi pend mulai inspektorat SMA menerbitkan naskah “Pembimbing dan Konseling” (1964). Naskah ini memuat suatu pedoman umum BP dilihat dari segi-segi pelajaran sosial dan pribadi, penjurusan serta segi kesehatan di SMA. Pedoman ini kurang mendapatkan operasional. Faktornya adalah kurangnya tenaga ahli dan sbg akibat dari banyak yg kurang memahami hal bimb serta adanya situasi sosial politik sejak 1965 dg sebutan sejarah G 30 S PKI.
Kemudian 1967 perhatian thdp BK kembali stabil yg didukung oleh dosen-dosen muda IKIP yg belajar di Amerika. Setelah pulang ke Indonesia mereka mengadakan seminar, lokakarya, penataran, rapat kerja dan semacam untuk memahami BK serta berusaha menemukan perumusan ke arah ke arah perkembangan yg lebih maju.
Pada 1968, perhatian thdp BK dg munculnya kurikulum 1968 hanya mengenal dua jurusan (Paspal dan SosBud), walaupun usaha-usaha kongrit dlm pelaksanaan bimbingan di sekolah-sekolah belum memuaskan karena pelaksanaannya belum merata di sekolah-sekolah.

c.Bimbingan Pendidikan Formal dalam Periode Pembaruan Pendidikan (1971-1983)

Periode ini merup awal perhatian thdp pentingnya BK dlm pend formal. Hal ini ditandai dg “Sekolah Konperhensif” yg dikenal dg sekolah pembangunan (1970-1971). Konsep Sekolah Pembangunan dicetuskan oleh Dep. P&K No. 172 th 1971 ditetapkan 8 PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan) sbg pelaksanaannya yaitu: IKIP Jakarta, PPSP IKIP Bandung, PPSP IKIP Semarang, PPSP IKIP Yogyakarta, PPSP IKIP Surabaya, PPSP IKIP Malang, PPSP IKIP Padang, dan PPSP IKIP Ujung Pandang. Semuanya ini sekarang sudah diganti menjadi Universitas Negeri.
Pada th yg sama disusun dan dikembangkanlah Kurikulum PPSP (Kurikulum 1975) yg dipergunakan utk SMP dan SMA serta kurikulum 1976 utk SPG, di mana BK semakin nampak dan jelas. Pandangan Winkel (1997: 80) bhw dlm acuan kurikulum utk sekolah pend menengah itu ditunjukkan dampak positif dari pelayanan bimb yg bertujuan agar pesdik dpt mengembangkan pemahaman diri, mengembangkan pengetahuan ttg dunia kerja serta tanggung jawab dlm memilih lapangan kerja tertentu serta mewujudkan penghargaan thdp harga diri org lain.
Mengingat kebutuhan bimb pada sekolah-sekolah akan didorong oleh beberapa hal seperti:
1) Dibutuhkan kegiatan penjurusan yg lebih teliti, shg pesdik dpt mengarahkan dirinya secara tepat dan cocok.
2) Dibutuhkan kegiatan peramalan kemampuan pesdik scr teliti agar pesdik dpt membuat pertimbangan yg bijak sehubungan dg keputusan kelanjutan studi, dan mempersiapkan pesdik terjun ke lapangan kerja.
3) Dibutuhkan layanan yg lebih baik dlm usaha menyesuaikan pesdik dlm kehidupan pribadi, sosial, dan akademik.
4) Dibutuhkan “Jembatan” yg dpt menghubungkan antara pesdik dg guru dlm interaksi pribadi yg dpt menunjang proses belajar mengajar.

Perhatian thdp BK semakin sadar dan meningkat dg perubahan pend. Sementara itu ahli BK para pembaruan pend dg terus-menerus mengadakan penelitian, seminar-seminar dan lokakarya dlm skala terbatas maupun luas di bawah koordinator Badan Pengembangan Pendi (BPP) dan Dep P & K.
Lokakarya bimb hasilnya sgt konkrit yg dicapai BPP adalah lokakarya III 1974 di Cisarua (Bogor) yg berhasil menyusun “Pola Dasar Rencana dan Pengembangan Program BP Melalui Proyek-Proyek Perintis Sekolah Pembangunan” yg menguraikan ttg dasar, hakekat, tujuan, fungsi dan ruang lingkup prog bimbi pada PPSP. Pola dasar tsb berhasil pula menguraikan dlm “Pedoman Operasional Pelayanan Bimbingan pada PPSP”.

d. Bimbingan Pendidikan Formal dalam Periode Pendidikan Modern (1983/1984-Sekarang) (Lihat Sukardi, 2002).
Periode ini dimulai dg pergantian Menteri P&K dari Daoed Yoesoef kpdaNugroho Noto Susanto, yg diserah terimakan jabatannya (21 Maret 1983). Beliau banyak mengajukan berbagai gagasan ttg pend seperti pend berfikir dan Humaniora, perubahan kurikulum serta peleburan jurusan di SMA. Gagasan ini mendapat tanggapan secara luas, shg terbit Keputusan Mendikbud No. 0461/U/1983, tgl 22 Oktober 1983 ttg perbaikan kurikulum Pend Dasmen di lingkungan Dep P&K RI.
Kemudian kebijakan kurikulum semakin jelas dg keluarnya SK Mendikbud No. 0209/U/1984, tgl 2 Mei 1984, ttg perbaikan kurikulum SMU (dikenal dg Kurikulum 1984) yg isinya “Kurikulum Inti dan Pilihan”. Orientasi dari kurikulum ini adalah terletak pada pendekatan ketrampilan proses, pembagian pend atas inti dan pilihan, sistem seleksi, SKS serta pengutamaan tenaga terampil bagi dunia kerja.
Dg konsekwensi kurikulum di atas, dibagi atas prog inti dan pilihan, berarti peranan BK adalah membantu pesdik dalam hal:
1) Penentuan kelp prog pend oleh pesdik yg ditekuninya dlm sekolah yg bersangkutan dan pend lebih lanjut.
2) Proses pemilihan pelajaran yg sesuai dg kelp program pend yg telah dicanangkan secara individual.
3) Proses mendalami mata pelajaran inti yg sesuai dg kelompok bidang studi (jurusan) yg stelah ditentukan.
4) Proses penyesuaian diri pesdik pada setiap pengalaman belajar menurut pilihannya.
5) Proses penyesuaian pengajar thdp kebutuhan dan ciri-ciri pribadi pesdik secara individual.

BK sekolah berperan dlm sistem pra seleksi khusus di SMTA (SMA dan SMK). Utk memasuki PT baik program S1 maupun Diploma, dan dunia kerja dpt membantu pesdik dlm:

1) Proses pemilihan dan penentuan arah pesdik baik semasa sekolah maupun setelah keluarnya.
2) Proses penyesuaian diri dlm kelompok yg digelutinya, terutama pesdik yg mempunyai cita-cita tinggi.
3) Proses pengayaan kognitif, afectif dan psychomotorik bagi pesdik baik ke arah PT maupun menuju ke dunia kerja.
BK dalam SKS yg ditandai dg pilihan kredit dan belajar tuntas sangat penting utk membantu pesdik dalam hal:

1) Proses pemilihan dan penentuan kredit yg diikuti dlm setiap semesteran menurut kemampuan dan kecepatan belajar.
2) Proses pelaksanaan pengayaan sbg program bagi pesdik yg cepat belajarnya.
3) Proses pelaksanaan program perbaikan (remedial) bagi pesdik yg lambat belajarnya.

Selain itu sifat kurikulum yg mengutamakan tenaga terampil thdp dunia kerja, lebih intensifnya pelaksanaan bimb karir. Dan juga pelaksanaan bimb dpt diketahui pada pertengahan th 1990-an, sekolah sudah melaksanakan pekerjaan mereka sbg guru pembimbing, kemudian diperkuat lagi oleh kurikulum SMU 1994 ttg pedoman BK, Teknis Pengelolaan BK merup kurikulum SMU 1996.
Akhirnya kurikulum inilah yg memberikan arah yg lebih jelas bagi status BK dan petugas di sekolah. Dg adanya konselor, maka setiap yg menghadapi kesulitan akan mendpt bantuan khusus dlm mengatasi masalah.
A. Asas-Asas Dasar Bimbingan dan Konseling

1. Asas yang berhubungan dengan individu
a. Tiap individu mempunyai kebutuhan.
Pesdik sbg individu kebutuhan seperti kebutuhan yg bersifat kejasmanian dan kejiwaan, tingkah laku, rasa aman dan kasih sayang. Dimyati (1999:161), menyatakan bahwa pembelajaran secara individu merup kegiatan mengajar guru yg menitikberatkan pada bantuan dan bimb belajar masing-masing individu. Agar berhasil dlm memberikan layanan bimb konselor sangat dibutuhkan.

b. Ada perbedaan individu yg satu dg individu yg lain.
c. Tiap pesdik ingin menjadi jati diri.
Ciri-ciri pribadinya individu banyak didasari oleh pembawaan manusia sejak kecil. Purwanto (1994:17) berpndpt dlm aliran Nativisme, bhw tiap-tiap anak dilahirkan mempunyai berbagai macam pembawaan ada yg baik dan ada yang buruk.
Bersama ini pend pada umumnya dan bimb pada khususnya bertujuan agar pesdik menjadi baik dan sempurna.
d. Tiap pesdik mempunyai dorongan menjadi matang.
Tiap pesdik dlm berkembang mempunyai dorongan yg kuat, shg dpt mandiri. Kematangan di sini adalah kematangan kejiwaan, pribadi dan sosial. Dlm memberikan layanan, konselor mendekatkan diri pada individu, bukan atas kehendak pembimbing sendiri. Dg adanya dorongan pesdik dpt mengarahkan dirinya sesuai dg tingkat perkembangannya. Dlm hal ini konselor hanya bersifat “Tut Wuri Handayani”.

e. Tiap individu pasti mempunyai masalah.
Bila diperhatikan lingkungan hidup klient semakin kompliks, maka setiap individu pasti mengalami problem. Oleh karena itu dengan adanya bimb yg kuat dpt mengatasi berbagai macam masalah yg dihadapinya.

2. Asas-asas yang berhubungan dengan pekerjaan
a. Pekerjaan bimb berlangsung dlm situasi yg berhub. antara pembimbing dg yg dibimbing.
Kunci keberhasilan bimb terletak pada bagaimana hub. itu diciptakan. Pada dasarnya kondisi hubungan itu harus penuh perhartian dan saling mempercayai.


b. Penyelenggaraan bimb merup kerahasiaan.
Dlm bimb perlu tertanam rasa saling mempercayai dan konselor harus menjaga rahasia bimbingannya, terutama layanan khusus yg berupa konseling, agar klient ada perhatiannya trhdp konselor dlm memberikan informasi kpd individu. Penyampaian informasi kpd pihak lain atas sepengetahuan klient atau seizin klient.

c. Pekerjaan bimb di sekolah merup pendekatan bersama antara konselor dg staf sekolah lainnya.
Di samping itu ada pula asas-asas BK yg dijadikan sbg dasar pertimbangan dlm melaksanakan kegiatan Hallen (2002) menyebutkan sebagai berikut:

1. Asas Keterbukaan
Asas keterbukaan dpt ditinjau dari 2 sudut pandang, pertama; dari pihak klien mau membuka diri sendiri shg apa yg ada pada dirinya dpt diketahui oleh orang lain (dlm hal ini konselor) dan kedua; mau membuka diri dlm arti mau menerima saran-saran atau masukan dari orang lain.

2. Asas Kerahasiaan
Kerahasiaan data perlu dihargai dg baik, karena hub menolong dlm BK hanya dpt berlangsung dg baik, jika data atau informasi yg dipercayakan kpd konselor agar dpt dijamin kerahasiaannya.

3. Asas Kekinian
Apabila ada hal-hal yg menyangkut masalah pada masa lampau atau masa yang akan datang perlu dibahas dalam upaya bimb yg sdg diselenggarakan, maka harus segera diselesaikan.

4. Asas Kedinamisan
Usaha pelayanan BK menghendaki terjadinya perubahan pada diri klien yaitu perubahan tingkah laku ke arah yg lebih baik. Perubahan itu tidaklah sekadar mengulang hal yg sama bersaifat monoton, melainkan perubahan yg menuju ke suatu pembaharuan, dinamis sesuai dgn arah perkembangan klien yg dikehendaki. Keberhasilan suatu usaha pelayanan bimbingan dan konseling ditandai dengan terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku yang lebih baik. Untuk mewujudkan terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku membutuhkan proses waktu sesuai dengan kerumitan permasalahan yang dihadapi klien. Konselor dan klien harus bekerja sama sepenuhnya agar proses pelayanan BK yg diberikan cepat menimbulkan perubahan dlm sikap dan tingkah laku klien. Hal ini lihat firman Allah dlm QS Ar-Ra’du, ayat 13 yang artinya: ... Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah dirinya sendiri.

5. Asas Kemandiran
Pelayanan BK bertuj. utk memberikan layanan trhdp klien dimana konselor berusaha menghidupkan klien agar dpt madiri. Prayitno (1999:117) menyebutkan ciri-ciri mandiri mampu: (a) mengenal diri sendiri dan lingkungannya, (b) menerima diri sendiri dan ling. Sec. positif dan dinamis, (c) mengambil keputusan utk dan oleh diri sendiri, (d) mengarahkan diri sesuai dg keputusan, dan (e) mewujudkan diri sec. optimal sesuai dg potensi, minat, kemmapuan-kemampuan yg dimilikinya.

6. Asas Keahlian
Usaha BK perlu dilakukan asas keahlian secara teratur dan sistematis dg menggunakan berbagai instrumen BK yg memadai. Utu menjamin keberhasilan usaha BK para petugas harus mendapatkan diklat yg memadai seperti pengetahuan, skill , moralitas dan kepribadian konselor.

7. Asas Tut Wuri Handayani
Dlm asas Tut Wuri Handayani, BK merup kegiatan yg dilakukan sec. kontinyu dan konprehensif yaitu sistematis, sengaja, berencana sec. terus-menerus dan terarah kpd tujuan yg diharapkan. Asas ini menunjukkan suasana hendaknya tercipta hubungan terus-menerus antara konselor dan klien dan asan ini makin dirasakan sangat diperlukan bahkan perlu dilengkapi dg ”ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso”.
Pelayanan BK tidak hanya dirasakan adanya pada saat klien (pesdik) mengalami masalah dan menghadapkan pada konselor saja. Kegiatan BK senantiasa diikuti sec. berkesinambungan dan aktif sampai sejauh mana klien berhasil mencapai tujuan yg telah ditetapkan.
B. Prinsip-prinsip Dasar Bimbingan dan Konseling

1. Prinsip-prinsip Umum Bimbingan
Yang tergolong prinsip-prinsip umum sbb:
a. Bimb itu berhu dg sikap dan tingkah laku individu. Hal ini terbentuk dari aspek kepribadian yg unik dan rumit.
Hubungan bimb. sikap dan tingkah laku terletak pada sebelum, selama dan sesudah pelaksanaan proses bimbingan. Sebelum proses bimbi yaitu mendasari langkah-langkah perencanaan pada sikap dan perwujudan tingkah laku individu. Selama proses bimb merup usaha utk mengamati perubahan sikap dan tingkah laku si terbimbing utk dipertimbangkan selanjutnya. Sedangkan setelah proses bimb merup sikap dan tingkah laku individu menjadi barometer utama guna melihat sampai sejauh mana keberhasilan bimb yg telah diberikan.
b. Perlu dipahami perbedaan antara individu yg satu dg individu yg lain dlm melaksanakan bimb, di samping memberikan bimb sesuai dg kebutuhannya. Secara umum tdk ada individu yg sama seperti dlm pembawaan, sikap, pengalaman (self experience), jenis kelamin dan kualitas masalah yang dihadapi. Oleh karena itu pemberian bimb harus selaras dengan kebutuhan individu masing-masing.
c. Bimbingan merupakan suatu proses bantuan individu, agar individu yang bersangkutan dapat membantu dirinya dalam memecahkan masalah/kesulitan yang dihadapi.
d. Bimb berpusat pada individu yg mendapatkan bimb.
Dlm melaksanakan bimb harus berhub dg individu di sekolah (kepala sekolah, guru, personil sekolah lainnya), di rumah (orang tua, saudara dan keluarga lainnya) dan di masyarakat (teman sebayanya).
e. Masalah yg tidak dpt diselesaikan di sekolah diserahkan kpd individu atau lembaga yg mampu dan berwenang untuk memecahkannya.
f. Bimb hrs dimulai dg identifikasi kebutuhan yg diserahkan oleh individu yg akan dibimbing.
g. Bimb harus fleksibel sesuai dg kebutuhan individu dan masyarakat.
Fleksibel berarti mudah disesuaikan dg keadaan. Keadaan ini dijadikan dasar sebagai kebutuhan individu yg dibimbing. Dlm program-program layanan bimb tidaklah selalu tetap bagi periode tertentu, melainkan banyak pesdik yg dibutuhkan keterampilan yg layak di masyarakat yg memerlukan tenaga kerja yg memiliki keterampilan tertentu. Oleh karena itu jenis bimb yg diutamakan adalah bimb karir (career guidance).
h. Program bimb sesuai dg program pend. sekolah yg bersangkutan.
Prinsip bimbini sesuai dg prinsip point g, yaitu kesesuaian antara program bimbingan sengan program sekolah yg merup bentuk khusus bimb. Oleh karena itu program bimb ini merup bagian intergral dari program bimb sekolah (pendidikan) secara menyeluruh. Bimbingan berperan sbg penunjang kelancaran utk mencapai tujuan institusional suatu sekolah. Dg demikian program bimb di Sekolah Dasar berbeda dengan di SLTP, SMA/SMK dan Perguruan Tinggi.
i. Pelaksanaan program bimb harus dipimpin oleh seorang guru yg memiliki keahlian dlm bidang bimbi dan sanggup bekerjasama dgpihak (staf) di luar sekolah/lembaga.
Program bimb dt bekerja dg lancar, bila dipimpin oleh seorang yg ahli dibidang bimb. Dlm melaksanakan program bimb seorang pemimpin harus bekerjasama dan penting bagi seorang pemimpin bimbingan.
j. Program BK harus diadakan penilaian berkala utk mengetahui sampai sejauh mana hasil yang telah dicapai dan untuk mengetahui apakah pelaksanaan program bimb itu sesuai dg yg telah direncanakan.
Dlm pelaksanaan program BK diadakan penilaian secara teratur, apakah dinilai setiap satu semester ataukah sebulan sekali. Dalam penilaian ini dapat mengetahui hasilnya, bila berhasil baik faktor apa yang menjadi penunjangnya dan akan dapat dipertahankan. Sebaliknya jika hasilnya tidak baik (belum berhasil) faktor apa yang menjadi penghambatnya, sehingga faktor tesebut dapat dikurangi atau dihilangkan dlm kegiatan selanjutnya.

2. Prinsip-prinsip Khusus Bimbingan
Sukardi (2000:77) menyebutkan prinsip-prinsip khusus bimb yg berhub dg (1) individu yg dibimbing (2) individu yg diberikan bimb dan (3) organisasi dan administrasi bimb. Untuk lebih jelasnya bimb akan diuraikan sebagai berikut:

a. Prinsip-prinsip bimb yg behub dng individu yg diberi bimb. Prinsip ini terdiri dari:
1) Pelaksanaan dilakukan secara kontinyu
2) Pelayanan diberikan kepada peserta didik
3) Harus ada kreteria utk memberikan prioritas pesdik
4) Program berpusat pada pesedik
5) Pelayanan harus memenuhi kebutuhan individu yg bersangkutan.
6) Keputusan dlm proses ditentukan oleh individu
7) Individu harus secara teratur mendapatkan bmb.
b. Prinsip-prinsip khusus yg memberikan bimb. Prinsip ini terdiri dari:
a) Petugas melakukan tugasnya sesuai dg kemampuan dan kewajiban masing-masing
b) Petugas dipilih atas dasar pend, pengalaman dan kemampuannya
c) Petugas harus mendapatkan berbagai macam latihan (in service training)
d) Petugas hendaknya mempergunakan informasi mengenai individu yg dibimbing berserta lingkungannya, sbg bahan utu membantu kearah yg lebih baik
e) Petugas harus menghormati dan merahasiakan informasi individu yg dibimbing
f) Petugas harus memperhatikan data, fakta dan informasi yang berhubungan dengan lingkungan individu dan harus diperhitungkan dalam memberikan bimbingan
g) Petugas mempergunakan hasil penelitian dlm bidang potensi individu guna kepentingan pengembangan kurikulum.
c. Prinsip-prinsip khusus yg berhub dg organisasi dan adm bimb. Prinsip ini terdiri dari:
a) Syarat mutlak adm bimb adalah catatan pribadi (cumulative record) setiap individu yg dibimbing
b) Harus tersedia anggaran/biaya
c) Program harus sesuai dg kebutuhan sekolah yg bersangkutan
d) Pembagian waktu harus diataur demi kelancaran bimb (petugas bimbingan)
e) Pesdik yg dibimbing harus sesuai dg metode yg dipergunakan dlm memecahkan masalah
f) Sekolah bekerjasama dg lembaga penyelenggara pelayanan bimb
g) Materi bimb. harus dipersiapkan, agar mudah dipergunakan oleh petugas
h) Kepsek memegang peranan dan tanggung jawab tertinggi dalam perencanaan dan pelaksanaan program bimbingan, Ahmadi (1991:70-75).


B. Kode Etik Bimbingan dan Konseling

Kode etik bimb merup ketentuan, aturan atau norma-norma yg harus ditaati dlm melaksanakan BK. Kode etik bagi jabatan adalah bukan suatu hal yg baru, melainkan sudah ada pada dirinya sendiri. Menurut Koestoer (1982: 252) bahwa kode etik jabatan adalah pola ketentuan/aturan/tata karma yang menjadi pedoman dlm menjalankan tugas dan aktivitas suatu profesi. Dg adanya kode etik jabatan dlm bimb dpt menjaga standart, mutu dan status profesinya, shg yg diharapkan semakin baik. Kode etik mengandung beberapa ketentuan yg tidak boleh diabaikan dlm memberikan bimb Walgito, (1993:28) mengatakan pada garis besarnya adalah:
1. Pembimbing atau pejabat harus memegang teguh jabatan prinsip-prinsip BK
2. Pembimbing harus berusaha agar mencapai hasil yg sebaik-baiknya dg membatasi diri pada keahlian wewenangnya. Dan pembimbing jangan mencampuri wewenang dan tanggung jawab orang lain.
3. Seorang pembimbing harus:
a) Memegang/menyimpan rahasia klient
b) Menunjukkan sakap hormat kepada klient
c) Saling menghormati terhadap klient.
4. Pembimbing tidak diperkenankan:
a) Menggunakan tenaga pembantu yang tidak ahli
b) Menggunakan alat yg kurang dpt dipertanggung jawabkan
c) Mengambil tindakan yang menimbulkan hal-hal yang tidak baik bagi klient.
5. Meminta bantuan ahli lain di luar kemampuan stafnya yang diperlukan dalam bimbingan.
6. Pembimbing hendaknya menyadari tanggung jawab dan pengabdian sepenuhnya.
D. Pendekatan dalam Bimbingan dan Konseling
Masalah BK bukanlah merup suatu hal yg baru, melainkan sejak zaman dahulu. Bimb merup cara utk mengatasi masalah yg dihadapi. Oleh krn itu orang merasa, bila ada kesulitan belum dipecahkan. Maka hal tersebut akan mengganggu di dlm kehidupannya. Utk menghindari masalah itu harus diselesaikan dg berbagai macam cara.
BK yg dihadapi sekarang ini berbeda dg bimb yg dihadapi oleh orang-orang tua pada zaman dahulu, letak perbedaannya adalah dlm segi pendekatan (approach) yg ditempuh. Hal tsb dpt dilihat dlm bimb ada dua macam pendekatan yaitu:
1. Pendekatan yg dilakukan oleh sang dukun dlm memberikan bantuan, hal ini dilihat dari segi ilmu pengetahuan yg disebut non scientific approach, krn pendekatan ini tidak berdasarkan kepada hal-hal yg bersifat obyektif dan hal ini tidak nyata atau lebih bersifat spekulatif.
2. Pendekatan yg dilakukan oleh konselor, pendekatan ini dipandang dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi yg disebut scientific approsch, karena pendekatan ini berdasarkan pada hasil-hasil interview, penelitian, prestasi belajar, hasil tes dan lain sebagainya. Hal ini berdasarkan pada hal-hal yang obyektif tidak bersifat spekulatif dan hal ini dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya secara ilmiah.
Perbedaan pendekatan ini tidak terlepas dari perkemb ilmu pengetahuan pada umumnya, terutama dlm lapangan psikologis yaitu soal metodologinya. Pada waktu ini perkembangan yang bersifat empirik lebih mendapatkan tempat dari pada yang bersifat spekulat.
Berdasarkan dari dua macam pendekatan di atas, bukanlah pendekatan bersifat spekulatif yg dibahas, melainkan obyektif karena kita berkecimpung dlm lapangan ilmu pengetahuan. Jadi hal ini didasari atas hal-hal obyektif dan nyata tidak bersifat spekulatif.




















TEKNIK-TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING
A. Jenis-jenis Masalah Individu.

Sec. umum mslh ada 2 yaitu individu dan kelompok.
Jumhur mengelompk mslh individu menjadi 6 jenis masalah antara lain:

1. Mslh Pengajaran atau Belajar
Individu kesulitan membagi waktu belajar, memilih materi yg sesuai, bahan ujian, belajar sendiri, belajar klmpk, menerima pelajaran disekolah, mengerjakan tugas dan lain sebagainya.
2. Masalah Pendidikan
Dlm pend pesdik menghadapi berbagai macam mslh seperti memilih studi lanjutan, merencanakan pendidikan lanjutan, menggunakan keterampilan untuk kegiatan tertentu dan lain sebagainya.
3. Masalah Pekerjaan
Pada umumnya masalah ini, dirasakan terutama pesdik SMTA dan PT. Tetapi peserta didik SMTP pun tdk sedikit yg menghadapi masalah seperti ini. Bahkan juga pesdik SD, terutama kelas terakhir, dan yg tidak melanjutkan pendidikannya.
4. Masalah Penggunaan Waktu Senggang
Yg dirasakan individu dlm menghadapi wkt luang yg tdk terisi oleh suatu kegiatan tertentu. Yg menjadi mslh bagaimana cara mengisi wkt luang dg kegiatan yg bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun bagi masya. Ketidakmampuan dlm menggunakan wkt senggang kadang-kadang dpt menimbulkan mslh yg kongkrit seperti timbul gejala kenakalan, mengganggu ketertiban, melamun dsb. Kemudian mslh penggunaan wkt senggang seperti: membuat jadwal utk pembagian wkt, mengisi waktu, memilih kegiatan yg sesuai dg keadaan dirinya.


5. Masalah Sosial
Mslh ini timbul disebabkan kurang mampu berhub dg ling. sendiri seperti: kesulitan dlm mencari sahabat/teman, menghadapi situasi sosial yg baru dan sebagainya. Kadang-kadang mendapatkan pesdik yg pandai dlm pelajaran, tetapi kurang mampu berhub dg teman-temannya. Ia kurang disenangi dlm pergaulan, bahkan diasingkan. Mslh ini sering disebut dg mslh sosial.
6. Masalah Pribadi
Dlm kehidupan sehari-hari kadang individu menghadapi kesulitan yg bersumber dari dirinya. Kondisi ini timbul, karena individu kurang berhasil dlm menyesuaikan diri, seperti: gejala frustasi (neurose) merup. sumber timbulnya mslh pribadi.


B. Proses dan Langkah Pelaksanaan Studi Kasus.

Studi kasus (case study) merup. metode utk mempelajari perkembangan pesdik sec. lengkap. Tuj.nya utk memahami pesdik dlm membantu perkembangan selanjutnya.
Laporan studi kasus harus disusun sec. sistematis yg bersifat komprehensif. Jadi pengadaan studi kasus merup proyek yg menuntut keahlian dlm mengumpulkan data, mengadakan interpretasi dan memberikan rekomendasi. Langkah dipergunakan dlm pelaksanaan studi kasus dpt memperoleh pemahaman sebaik-baiknya, mengumpulkan dokumen-dokumen sekolah yg mencatat ttg SUJONO seperti buku identitas data di sekolah, wawancara dg guru-guru yg pernah mengajarnya.
Langkah selanjutnya konselor memanggil Sujono, diajak wawancara, utk memperoleh keterangan yg lengkap, di samping menanamkan kepercayaan pada dirinya serta membina hub yg baik. Kemudian setelah itu Sujono merasa puas karena telah mengeluarkan segala perasaannya.
Dari data di atas, bersama-sama dg guru, konselor dan kepsek mengadakan pertemuan (rapat) utk membicarakan masalah selanjutnya. Pada pertemuan tsb konselor memberikan laporan ttg kesulitan dan latar belakangnya. Kemudian dikemukakan langkah selanjutnya, yaitu usaha-usaha yang ditempuh utk memberikan bantuan dlm bimb. Rapat semacam ini disebut pertemuan kasus (case confrence).
Djumhur (1975:103), menyimpulkan pertemuan kasus dan menetapkan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Bimbingan dalam kesulitan belajar
2. Bimb penyesuaian diri terutama dlm keadaan sosial
3. Bimb pribadi dlm penyesuaian konflik
Untuk itu langkah yg ditempuh yaitu :
a. Mengadakan wawancara khusus dg kasus sec. teratur dan sistematis
b. Mengadakan pendekatan dg org tua utk memperoleh pengertian yg sbaik-baiknya.
c. Mengadakan kunjungan karyawisata ke obyek-obyek tertentu
d. Memberikan informasi, baik ttg pend maupun pekerjaan kepada pesdik secara kelompok/individual.


C. Metode Mendapatkan Data BK.
Bbrp metode yg digunakan utk mendptkan data di dlm merealisasikan BK. Mengumpulkan data merup suatu hal yg penting dlm penyelidikan pada umumnya dari konseling pada khususnya. Maka metode yg digunakan sbb:
1. Metode observasi adalah salah satu metode pengumpulan data dg mengadakan pengamatan dan pencatatan terhdp gejala-gejala yg diselidiki sec. langsung dan sistematis. Hadi (1993:136) mengatakan observasi adalah suatu pengamatan dan pencatatan d sistematis tt9 fenomena yg diselidiki.
Jadi observasi merupakan suatu penyelidikan secara sistematis.
Walgito (1993) membagi observasi menjadi tiga jenis observasi yaitu :
a. Observasi yang berpartisipasi (participant observation)
b. Obsevasi non partisipasi (non participant observation)
c. Kuasi partisipasi.
2. Metode Kuesioner angket merup daftar yg berisikan pertanyaan-pertanyaan yg hrs dijawab oleh individu yg diselidiki. Dgn menggunakan metode kuesioner pemb dpt memperoleh fakta yang ingin dicapai.
Bila dilihat cara pemberian kuesioner, Walgito (1993: 65), menelaskan dg dua cara yaitu:
a) Kuesioner secara langsung yaitu diberikan langsung kepada respoden (yg diselidiki). Jadi mendptkan jawaban dari sumber pertama (first resource), tidak menggunakan perantara mendptkan jawaban.
b) Kuesioner tdk langsung yaitu kuesioner yg mendptkan jawaban yg membutuhkan perantara, shg jawaban tsb diperoleh dari “the first resource”, seperti org tua menjawab pertanyaan anaknya, guru menjawab pertanyaan muridnya.
3. Metode Interview merup salah satu metode memperoleh data dg mengadakan hub sec langsung dgn informan (face to face relation), Seiring dg pendpt Winkel (1997:251) wawancara adalah alat memperoleh data dan informasi sec lisan. Di dlm wawancara pertemuan antara petugas pemb (interviewer) tertentu dlm pertemuan tbt petugas pemb mengadakan pertanyaan, minta penjelasan pesdik menjawab pertanyaan kepadanya. Dg pertanyaan tsb pesdik menjawab pertanyaan dan mengungkapkan pikiran dan perasaan, minta penjelasan atas pertanyaan. Dlm wawancara dipertegas oleh Moleong (1998:135), wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, yg dilakukan oleh dua org yaitu pewawancara (interviewer) mengajukan pertanyaan dan yg diwawancarai (interviewee) yg memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
Di samping itu metode kuesioner dan interview mempunyai kebaikan dan kelemahan, sebagaimana yg ditegaskan oleh Bimo (1993:65) sbb:
a) Dg interview pertanyaan yg kurang jelas dpt diperjelas oleh interviewer, shg informan mengerti apa yg dimaksud. Hal semacam ini tdk trdpt pada kuesioner.
b) Bahasa dari interviewer dpt disesuaikan dg keadaan interviewee..
c) Adanya face to face, dpt menimbulkan suasana persaudaraan yg baik shg mempunyai pengaruh baik thdp hasil interview, sebailiknya bila hub.nya tdk baik dpt mempengaruhi hasil interview. Adapun kelemahannya adalah:
1) Dg interview kurang hemat, baik dlm wkt maupun tenaga. Interview akan membutuhkan wkt yg cukup lama, shg tdk menghemat tenaga yg digunakan.
2) Dg interview membutuhkan keahlian. Utk mdptkn itu dibutuhkan diklat yg cukup lama. Hal ini tidak terdapat dlm kuesioner.
3) Dlm interview bila ada prasangka, maka hal ini akan mempengaruhi hasil interview, yg tdk obyektif, hal ini trdpt pada kuesioner.

4. Metode Sosiometri, merup suatu metode utk memperoleh data ttg jaringan hub sosial dlm suatu klmpok, yg berukuran (10-50) org berdasarkan profesi pribadi antara anggota klpk. Dlm sosiometri telah menunjukkan kepada kita yakni ttg ukuran berteman. Yang diselidiki melalui metode ini adlh “status sosial” menurut pandangan yg lain dlm klpok. Status sosial tercermin diterima atau tidak oleh anggota-anggota klpok. Alat yg digunakan dlm pengumpulan data yaitu angket sosiometri, memuat butir-butir yg hrs dijawab oleh masing-masing kelompok (anggota kelompok).
5. Metode Test. Sukardi menyebutkan test adlh alat yg dipergunakan utk menyelidiki dan disposisi seseorang. Dan merup suatu metode utk mengadakan penyelidikan yg menggunakan soal-soal, pertanyaan yg telah dipilih dg seksama dan telah distandarisasikan.
Dlm hal ini, yg dibicarakan adlh peranan test sbg salah satu metode (alat) untuk mengumpulkan data yg berhubungan dg BK. Test mulai terkenal yg diungkapkan oleh Binet (1904) yg mendptkan tugas dari Perancis, utk mengadakan penyelidikan kpd anak-anak yg mengalami kelambatan belajar bila dibandingkan dg teman-temannya (Walgito, 1993: 75).
D. Langkah-Langkah Bimbingan dan konseling .
Sebagaimana telah disebutkan di atas, proses memberikan bantuan terhdp org yg menimpa kasus dlm memecahkan mslhnya. Dlm pemberian bimb dikenal adanya langkah-langkah bimb dikemukakan oleh Djumhur, 1975: 104; sebagai berikut:

1. Langkah Identifikasi kasus

2. Langkah Diagnosa
Diagnosa merup data yg terkumpul dari hasil analisa diterjemahkan utk mendptkan suatu gambaran yg jelas dimana letak kekuatan, kelemahan, potensi yg tdk hanya berhubungan dgn masalah yg dihadapi.
3. Langkah Terapi
Langkah ini merup pelaksanaan bimb yg ditetapkan dlm langkah prognosa, dan memakan wkt dan proses yg kontinyu serta memerlukan pengamatan yg cermat, seperti: contoh kasus diatas, akan digambarkan pelaksanaan wawancara dg kasus. Home visit, mengadakan diskusi, dan memberikan informasi di dlm kelas.


4. Langkah Evaluasi dan Follow-up
Adlh utk mengetahui sampai sejauh manakah bimb yg telah dilakukan dan sampai manakah hasilnya. Pandangan Koestoer (1984:81), bhw follow-up terdiri atas kegiatan-kegiatan sesudah konseling utk memonitor penyesuaian dan perkembangan yg terjadi, kemudian mengevaluasi kejadian klient dalam melaksanakan alternatif pilihannya. Selanjutnya dapat dikatakan bahwa tindak lanjut akan dilihat perkembangan lebih jauh. Langkah evaluasi dan follow-up gunanya utk melihat prestasi dan langkah anak menuju masa depannya.

E. Teknik-Teknik Bimbingan dan konseling.
Pada umumnya yg dipergunakan dlm BK ada dua macam pendekatan yaitu:

1. Teknik bimb kelompok (group guidance)
Djumhur (1975:106) menyebutkan bentuk teknis khusus BK kelompok yaitu:
a) Teknik home room program
Sec garis besarnya dilaksanakan di dlm kelas maupun di luar pada jam-jam yg telah ditentukan dlm jadwalnya.
b) Teknik karyawisata (field trip)
Bimb karyawisata (field trip) merup cara yg banyak menguntungkan. Teknik ini pesdik dpt mengenal sec langsung ttg obyek yg menarik perhatiannya dlm hub.nya dg pelajaran sekolah.
b) Diskusi kelompok
Teknik ini merup suatu cara utk mendptkan pemecahan suatu problem bersama-sama. Setiap pesdik mempunyai kesempatan utk memberikan pikiran dlm memecahkan mslh. Dlm kegiatan diskusi tertanam rasa tanggung jawab dan harga diri. Beberapa hal yg dpt didiskusikan, sbgmana yg diutarakan oleh Sukardi (1984: 159), dlm diskusi kelompok sbb:
1) Pergaulan dengan orang tua;
2) Kesukaran dlm menghadapi pelajaran
3) Kesiapan utk memasuki PT;
4) Mlslh pengisian waktu luang;
5) Mslh hubungan persahabatan
6) Mslh penyesuaian pekerjaan rumah
7) Mslh OSIS dan lain-lain.

c) Organisasi peserta didik
Organisasi baik dlm maupun luar sek dpt dikatakan sbg teknik bimb klpk. Dg organisasi banyak mslh yg dpt terselesaikan. Dlm organisasi pesdik mendapat kesempatan utk mengenal berbgi aspek kehdpn sosial.
d) Teknik psikodrama
Teknik ini merup teknik pemecahan mslh sosial, teknik psikodrama merup teknik pemecahan mslh “psychis”.
e) Teknik remedial teaching
Teknik ini disebut juga pengajaran remedial yaitu bentuk pengajaran yg diberikan kpd pesdik, guna memecahkan kesulitan dlm belajar. Bentuk remedial teaching seperti: pengulangan kembali pelajaran yg telah diberikan, dan latihan penyelesaian tugas bersama.

2. Teknik bimbingan individual
Teknik konseling merup salah satu teknik pemberian bantuan trhdp individu sec langsung. Dlm teknik ini pemberian bantuan bersifat “face to face relationhip” (hub empat mata) yg dilaksanakan dg wawancara antara konselor dg kasus. Mslh yg dipecahkan melalui teknik konseling yg bersifat pribadi.
Dlm konseling hendaknya konselor bersikap penuh simpati dan empati. Empati artinya menunjukkan sikap merasakan apa yg dirasakan kasus (counselee), sdgkan empati yaitu berusaha menempatkan diri dlm situasi ttg diri counselee dg sgl mslh yg dihadapinya.
Sebagaimana dikatakan oleh koestoer (1984:53), bhw teknik dlm counseling yg dikenal ada tiga yaitu:
a. Teknik directive (teknik langsung)
Teknik directive (teknik langsung) adalah counselor menggerakkan individu yg belum matang melakukan diagnosa sesuai dg mslhnya. Jadi teknik ini yg paling berperan adalah counselor, dan dipelopori oleh Williamson (1990), dg prinsip-prinsip sbbi :
1) Kebanyakan pesdik belum matang melakukan diagnosa sendiri
2) Kebanyakan pesdik belum mampu bertanggung jawab membuat keputusan sendiri
3) Ada mslh terlalu berat tdk bisa dipecahkan tanpa bantuan orang lain
Langkah-langkah pendekatannya adalah:
1) Analisis; berarti usaha mengumpulkan data ttg diri dan lingkungannya
2) Sintesis; berarti berusaha memilih data dari data yg ada dan berguna untuk membantu klient
3) Diagnosis; berarti perumusan tentang mslh yg dihadapi klient beserta sebab-sebabnya
4) Treatmen dlm pandangan Syahril (1987:93), meru pandangan inti dari pelaksanaan conseling yg meliputi usaha-usaha seperti:
a) Penciptaan hub yg baik antara konselor dan klient
b) Penafsiran data tentang klient
c) Pemberian rencana yg dilakukan bersama klient
d) Membantu klient dlm melaksanakan kegiatan yg telah direncanakan semula.
5) Tindak lanjut merupakan usaha utk menetapkan efektif atau tidaknya usaha klin yg telah dilaksanakan
b. Teknik non directive (teknik tdk langsung)
Teknik ini kebalikan dari directive, semua berpusat pada pesdik konselor hanya menampung pembicaraan dan sekedar mengarahkan. Teknik ini dikenal dg sebutan “Clint Centred Counseling”, pelopornya Carl Rogers (1942). Kemudian langkah-langkah teknik Syahril (1987:89) mengungkapkan adalah sebagai berikut:
1) Inisiatif dlm hub. konseling hrs berdasarkan dari klient sendiri
2) Setiap individu memiliki kemampuan yg besar utk beradaptasi dan memiliki dorongan kearah kedewasaan hendaknya mendasarkan konseling bukan pada kekuatan konselor sendiri, sedang langkah pendekatannya seperti:
a) Adanya kesukarelawaan dari individu untuk meminta bantuan
b) Menentukan situasi konseling
c) Konselor mendorong klien menyatakan sec bebas tentang masalah yg dihadapinya
d) Konselor menerima, mengenal dan mencerminkan perasaan yg bersifat negatif dan positif
e) Klien mencoba menjalankan wawasan ttg tingkah lakunya.


c. Teknik eclective (teknik pilihan)
Teknik ini merup campuran dari kedua teknik di atas. Dan merupakan teknik pilihan konselor dg orientasi dan pandangan hidupnya. Konselor berusaha membentuk teknik pendekatan yg merupakan perpaduan dari berbagai teknik yg disesuaikan dg kebutuhan yg dihadapinya. Teknik ini dipelopori oleh Robinson. Syahril (1987) pada umumnya prinsip-prinsip eclective antara lain:
1) Tidak ada dua masalah atau situasi yang identik
2) Suatu mslh jarang sekali tertuju pada satu bidang kehidupan
3) Mslh biasanya merembet dari bidang kehidupan satu dg yg lain dan biasanya dlm hub konseling.
Kemudian langkah teknik ini, tidak dijabarkan sec. jelas, sebab conseling kadang-kadang menggunakan teknik directive atau non directive, tergantung situasi yg dihadapi konseling.
Jadi uraian di atas menjelaskan bahwa dengan menggunakan teknik-teknik directive, conselor berusaha untuk memberikan pemecahan terhdp masalah klient, dan dgn menggunakan teknik non directive konselor berusaha agar klien memahami diri dan masalah yg dihadapi, sedangkan teknik eclective konselor berusaha menggabungkan antara kedua teknik pendekatan di atas.
F. Latihan Melaksanakan Studi Kasus.
Contoh study kasus sbb:
Nama : Sujono
Umur/Kelamin : 14 tahun/Laki-Laki
Kelas : VI (enam)
Tempat Tinggal : Jl. Diponegoro No. 63
Surabaya, Jawa Timur
I. Masalah : Guru kelas melaporkan, bhw anak bernama Sujono sbg anak yg kurang di kelasnya. Tidak mengerjakan tugas sering tidak sekolah.
II. Kemajuan : Raport dari kelas satu, nilainya cukup, Akademis bahkan di bawah cukup. Nilainya hanya menggambar nilai tujuh dan delapan. Menurut laporan guru kelas dua al lambat membaca dan berhitung serta pernah ketinggalan di kelas tiga gejala menurun mulai di kelas empat, bahkan hampir tdk naik kelas lima.


III. Keadaan Fisik dan Kesehatan :
Menurut hasil pemeriksaan kesehatan ternyata Sujono tergolong anak yg normal kesehatannya, di kelasnya tergolong yg paling berat dan tinggi badannya dibandingkan dg teman-temannya, serta tidak menunjukkan kelainannya dlm jenisnya.
IV. Keadaan Keluarga : Sujono anak ketiga dari enam bersaudara orang tuanya (Sudarmadi). Kakaknya yg tertua Hajar, ketika tamat SD sudah menikah. Ayah dan Ibunya tidak pernah memberi bimbingan bahkan jarang berkumpul sesama keluarga Sudarmadi, mereka menyambut dg senang dan berterima kasih atas membimbing Sujono, ayah dan ibu mengakui keliru dlm memdidik anaknya, bahkan ibunya bersikap agak keras terhadap anaknya.

V. Kepribadian: Berdasarkan pengamatan guru yg pernah mengajarnya Sujono dia pendiam, mudah tersinggung, wawancara dg Sujono utk memberikan keterangan, selalu diliputi rasa takut oleh ibunya. Sebenarnya tidak mau menjual Koran tetapi dipaksakan oleh ibunya.

VI.Tingkah Laku Sosial: Sujono kurang bermain. Ia merasa malu bergaul dg kawannya, sebab usianya paling tua diantara teman sekelasnya. Di luar sek kurang mendapat kesempatan utk bermain dg teman-teman, sebab bekerja sbg pengantar Koran.


VII.Kesimpulan:1.Setelah melihat kasus Sujono, perlu memberikan bimb;

2.Lingkungan keluarga merup. faktor yg menimbulkan masalah/permasalahan.

3.Pergaulan Sujono tergolong rendah ;

4.Sebenarnya tidak termasuk anak yg bodoh, tapi tingkat kecerdasannya rendah, ia mengalami gangguan.

5. Usia dan keadaan fisiknya melebihi dari teman-teman sekelasnya, shg dpt mempengaruhi pada dirinya.
A. Asas-Asas Dasar Bimbingan dan Konseling

1. Asas yang berhubungan dengan individu
a. Tiap individu mempunyai kebutuhan.
Pesdik sbg individu kebutuhan seperti kebutuhan yg bersifat kejasmanian dan kejiwaan, tingkah laku, rasa aman dan kasih sayang. Dimyati (1999:161), menyatakan bahwa pembelajaran secara individu merup kegiatan mengajar guru yg menitikberatkan pada bantuan dan bimb belajar masing-masing individu. Agar berhasil dlm memberikan layanan bimb konselor sangat dibutuhkan.

b. Ada perbedaan individu yg satu dg individu yg lain.
c. Tiap pesdik ingin menjadi jati diri.
Ciri-ciri pribadinya individu banyak didasari oleh pembawaan manusia sejak kecil. Purwanto (1994:17) berpndpt dlm aliran Nativisme, bhw tiap-tiap anak dilahirkan mempunyai berbagai macam pembawaan ada yg baik dan ada yang buruk.
Bersama ini pend pada umumnya dan bimb pada khususnya bertujuan agar pesdik menjadi baik dan sempurna.
d. Tiap pesdik mempunyai dorongan menjadi matang.
Tiap pesdik dlm berkembang mempunyai dorongan yg kuat, shg dpt mandiri. Kematangan di sini adalah kematangan kejiwaan, pribadi dan sosial. Dlm memberikan layanan, konselor mendekatkan diri pada individu, bukan atas kehendak pembimbing sendiri. Dg adanya dorongan pesdik dpt mengarahkan dirinya sesuai dg tingkat perkembangannya. Dlm hal ini konselor hanya bersifat “Tut Wuri Handayani”.

e. Tiap individu pasti mempunyai masalah.
Bila diperhatikan lingkungan hidup klient semakin kompliks, maka setiap individu pasti mengalami problem. Oleh karena itu dengan adanya bimb yg kuat dpt mengatasi berbagai macam masalah yg dihadapinya.

2. Asas-asas yang berhubungan dengan pekerjaan
a. Pekerjaan bimb berlangsung dlm situasi yg berhub. antara pembimbing dg yg dibimbing.
Kunci keberhasilan bimb terletak pada bagaimana hub. itu diciptakan. Pada dasarnya kondisi hubungan itu harus penuh perhartian dan saling mempercayai.

b. Penyelenggaraan bimb merup kerahasiaan.
Dlm bimb perlu tertanam rasa saling mempercayai dan konselor harus menjaga rahasia bimbingannya, terutama layanan khusus yg berupa konseling, agar klient ada perhatiannya trhdp konselor dlm memberikan informasi kpd individu. Penyampaian informasi kpd pihak lain atas sepengetahuan klient atau seizin klient.
c. Pekerjaan bimb di sekolah merup pendekatan bersama antara konselor dg staf sekolah lainnya.

Di samping itu ada pula asas-asas BK yg dijadikan sbg dasar pertimbangan dlm melaksanakan kegiatan Hallen (2002) menyebutkan sebagai berikut:

1. Asas Keterbukaan
Asas keterbukaan dpt ditinjau dari 2 sudut pandang, pertama; dari pihak klien mau membuka diri sendiri shg apa yg ada pada dirinya dpt diketahui oleh orang lain (dlm hal ini konselor) dan kedua; mau membuka diri dlm arti mau menerima saran-saran atau masukan dari orang lain.

2. Asas Kerahasiaan
Kerahasiaan data perlu dihargai dg baik, karena hub menolong dlm BK hanya dpt berlangsung dg baik, jika data atau informasi yg dipercayakan kpd konselor agar dpt dijamin kerahasiaannya.

3. Asas Kekinian
Apabila ada hal-hal yg menyangkut masalah pada masa lampau atau masa yang akan datang perlu dibahas dalam upaya bimb yg sdg diselenggarakan, maka harus segera diselesaikan.

4. Asas Kedinamisan
Usaha pelayanan BK menghendaki terjadinya perubahan pada diri klien yaitu perubahan tingkah laku ke arah yg lebih baik. Perubahan itu tidaklah sekadar mengulang hal yg sama bersaifat monoton, melainkan perubahan yg menuju ke suatu pembaharuan, dinamis sesuai dgn arah perkembangan klien yg dikehendaki. Keberhasilan suatu usaha pelayanan bimbingan dan konseling ditandai dengan terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku yang lebih baik. Untuk mewujudkan terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku membutuhkan proses waktu sesuai dengan kerumitan permasalahan yang dihadapi klien. Konselor dan klien harus bekerja sama sepenuhnya agar proses pelayanan BK yg diberikan cepat menimbulkan perubahan dlm sikap dan tingkah laku klien. Hal ini lihat firman Allah dlm QS Ar-Ra’du, ayat 13 yang artinya: ... Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah dirinya sendiri.

5. Asas Kemandiran
Pelayanan BK bertuj. utk memberikan layanan trhdp klien dimana konselor berusaha menghidupkan klien agar dpt madiri. Prayitno (1999:117) menyebutkan ciri-ciri mandiri mampu: (a) mengenal diri sendiri dan lingkungannya, (b) menerima diri sendiri dan ling. Sec. positif dan dinamis, (c) mengambil keputusan utk dan oleh diri sendiri, (d) mengarahkan diri sesuai dg keputusan, dan (e) mewujudkan diri sec. optimal sesuai dg potensi, minat, kemmapuan-kemampuan yg dimilikinya.

6. Asas Keahlian
Usaha BK perlu dilakukan asas keahlian secara teratur dan sistematis dg menggunakan berbagai instrumen BK yg memadai. Utu menjamin keberhasilan usaha BK para petugas harus mendapatkan diklat yg memadai seperti pengetahuan, skill , moralitas dan kepribadian konselor.

7. Asas Tut Wuri Handayani
Dlm asas Tut Wuri Handayani, BK merup kegiatan yg dilakukan sec. kontinyu dan konprehensif yaitu sistematis, sengaja, berencana sec. terus-menerus dan terarah kpd tujuan yg diharapkan. Asas ini menunjukkan suasana hendaknya tercipta hubungan terus-menerus antara konselor dan klien dan asan ini makin dirasakan sangat diperlukan bahkan perlu dilengkapi dg ”ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso”.
Pelayanan BK tidak hanya dirasakan adanya pada saat klien (pesdik) mengalami masalah dan menghadapkan pada konselor saja. Kegiatan BK senantiasa diikuti sec. berkesinambungan dan aktif sampai sejauh mana klien berhasil mencapai tujuan yg telah ditetapkan.


B. Prinsip-prinsip Dasar Bimbingan dan Konseling

1. Prinsip-prinsip Umum Bimbingan
Yang tergolong prinsip-prinsip umum sbb:
a. Bimb itu berhu dg sikap dan tingkah laku individu. Hal ini terbentuk dari aspek kepribadian yg unik dan rumit.
Hubungan bimb. sikap dan tingkah laku terletak pada sebelum, selama dan sesudah pelaksanaan proses bimbingan. Sebelum proses bimbi yaitu mendasari langkah-langkah perencanaan pada sikap dan perwujudan tingkah laku individu. Selama proses bimb merup usaha utk mengamati perubahan sikap dan tingkah laku si terbimbing utk dipertimbangkan selanjutnya. Sedangkan setelah proses bimb merup sikap dan tingkah laku individu menjadi barometer utama guna melihat sampai sejauh mana keberhasilan bimb yg telah diberikan.
b. Perlu dipahami perbedaan antara individu yg satu dg individu yg lain dlm melaksanakan bimb, di samping memberikan bimb sesuai dg kebutuhannya. Secara umum tdk ada individu yg sama seperti dlm pembawaan, sikap, pengalaman (self experience), jenis kelamin dan kualitas masalah yang dihadapi. Oleh karena itu pemberian bimb harus selaras dengan kebutuhan individu masing-masing.
c. Bimbingan merupakan suatu proses bantuan individu, agar individu yang bersangkutan dapat membantu dirinya dalam memecahkan masalah/kesulitan yang dihadapi.
d. Bimb berpusat pada individu yg mendapatkan bimb.
Dlm melaksanakan bimb harus berhub dg individu di sekolah (kepala sekolah, guru, personil sekolah lainnya), di rumah (orang tua, saudara dan keluarga lainnya) dan di masyarakat (teman sebayanya).
e. Masalah yg tidak dpt diselesaikan di sekolah diserahkan kpd individu atau lembaga yg mampu dan berwenang untuk memecahkannya.
f. Bimb hrs dimulai dg identifikasi kebutuhan yg diserahkan oleh individu yg akan dibimbing.
g. Bimb harus fleksibel sesuai dg kebutuhan individu dan masyarakat.
Fleksibel berarti mudah disesuaikan dg keadaan. Keadaan ini dijadikan dasar sebagai kebutuhan individu yg dibimbing. Dlm program-program layanan bimb tidaklah selalu tetap bagi periode tertentu, melainkan banyak pesdik yg dibutuhkan keterampilan yg layak di masyarakat yg memerlukan tenaga kerja yg memiliki keterampilan tertentu. Oleh karena itu jenis bimb yg diutamakan adalah bimb karir (career guidance).
h. Program bimb sesuai dg program pend. sekolah yg bersangkutan.
Prinsip bimbini sesuai dg prinsip point g, yaitu kesesuaian antara program bimbingan sengan program sekolah yg merup bentuk khusus bimb. Oleh karena itu program bimb ini merup bagian intergral dari program bimb sekolah (pendidikan) secara menyeluruh. Bimbingan berperan sbg penunjang kelancaran utk mencapai tujuan institusional suatu sekolah. Dg demikian program bimb di Sekolah Dasar berbeda dengan di SLTP, SMA/SMK dan Perguruan Tinggi.
i. Pelaksanaan program bimb harus dipimpin oleh seorang guru yg memiliki keahlian dlm bidang bimbi dan sanggup bekerjasama dgpihak (staf) di luar sekolah/lembaga.
Program bimb dt bekerja dg lancar, bila dipimpin oleh seorang yg ahli dibidang bimb. Dlm melaksanakan program bimb seorang pemimpin harus bekerjasama dan penting bagi seorang pemimpin bimbingan.
j. Program BK harus diadakan penilaian berkala utk mengetahui sampai sejauh mana hasil yang telah dicapai dan untuk mengetahui apakah pelaksanaan program bimb itu sesuai dg yg telah direncanakan.
Dlm pelaksanaan program BK diadakan penilaian secara teratur, apakah dinilai setiap satu semester ataukah sebulan sekali. Dalam penilaian ini dapat mengetahui hasilnya, bila berhasil baik faktor apa yang menjadi penunjangnya dan akan dapat dipertahankan. Sebaliknya jika hasilnya tidak baik (belum berhasil) faktor apa yang menjadi penghambatnya, sehingga faktor tesebut dapat dikurangi atau dihilangkan dlm kegiatan selanjutnya.

2. Prinsip-prinsip Khusus Bimbingan
Sukardi (2000:77) menyebutkan prinsip-prinsip khusus bimb yg berhub dg (1) individu yg dibimbing (2) individu yg diberikan bimb dan (3) organisasi dan administrasi bimb. Untuk lebih jelasnya bimb akan diuraikan sebagai berikut:

a. Prinsip-prinsip bimb yg behub dng individu yg diberi bimb. Prinsip ini terdiri dari:
1) Pelaksanaan dilakukan secara kontinyu.
2) Pelayanan diberikan kepada peserta didik.
3) Harus ada kreteria utk memberikan prioritas pesdik.
4) Program berpusat pada pesedik.
5) Pelayanan harus memenuhi kebutuhan individu yg bersangkutan.
6) Keputusan dlm proses ditentukan oleh individu
7) Individu harus secara teratur mendapatkan bmb.

b.Prinsip-prinsip khusus yg memberikan bimb. Prinsip ini terdiri dari:
1) Petugas melakukan tugasnya sesuai dg kemampuan dan kewajiban masing-masing
2) Petugas dipilih atas dasar pend, pengalaman dan kemampuannya
3) Petugas harus mendapatkan berbagai macam latihan (in service training)
4) Petugas hendaknya mempergunakan informasi mengenai individu yg dibimbing berserta lingkungannya, sbg bahan utu membantu kearah yg lebih baik
5) Petugas harus menghormati dan merahasiakan informasi individu yg dibimbing
6) Petugas harus memperhatikan data, fakta dan informasi yang berhubungan dengan lingkungan individu dan harus diperhitungkan dalam memberikan bimbingan
7) Petugas mempergunakan hasil penelitian dlm bidang potensi individu guna kepentingan pengembangan kurikulum.

c.Prinsip-prinsip khusus yg berhub dg organisasi dan adm bimb. Prinsip ini terdiri dari:
1) Syarat mutlak adm bimb adalah catatan pribadi (cumulative record) setiap individu yg dibimbing
2) Harus tersedia anggaran/biaya
3) Program harus sesuai dg kebutuhan sekolah yg bersangkutan
4) Pembagian waktu harus diataur demi kelancaran bimb (petugas bimbingan)
5) Pesdik yg dibimbing harus sesuai dg metode yg dipergunakan dlm memecahkan masalah
6) Sekolah bekerjasama dg lembaga penyelenggara pelayanan bimb
7) Materi bimb. harus dipersiapkan, agar mudah dipergunakan oleh petugas
8) Kepsek memegang peranan dan tanggung jawab tertinggi dalam perencanaan dan pelaksanaan program bimbingan.


3. Kode Etik Bimbingan dan Konseling

Kode etik bimb merup ketentuan, aturan atau norma-norma yg harus ditaati dlm melaksanakan BK. Kode etik bagi jabatan adalah bukan suatu hal yg baru, melainkan sudah ada pada dirinya sendiri. Menurut Koestoer (1982: 252) bahwa kode etik jabatan adalah pola ketentuan/aturan/tata karma yang menjadi pedoman dlm menjalankan tugas dan aktivitas suatu profesi. Dg adanya kode etik jabatan dlm bimb dpt menjaga standart, mutu dan status profesinya, shg yg diharapkan semakin baik. Kode etik mengandung beberapa ketentuan yg tidak boleh diabaikan dlm memberikan bimb Walgito, (1993:28) mengatakan pada garis besarnya adalah:
4. Pembimbing atau pejabat harus memegang teguh jabatan prinsip-prinsip BK
5. Pembimbing harus berusaha agar mencapai hasil yg sebaik-baiknya dg membatasi diri pada keahlian wewenangnya. Dan pembimbing jangan mencampuri wewenang dan tanggung jawab orang lain.
d. Seorang pembimbing harus:
1) Memegang/menyimpan rahasia klient
2) Menunjukkan sakap hormat kepada klient
3) Saling menghormati terhadap klient.
e. Pembimbing tidak diperkenankan:
1) Menggunakan tenaga pembantu yang tidak ahli
2) Menggunakan alat yg kurang dpt dipertanggung jawabkan
3) Mengambil tindakan yang menimbulkan hal-hal yang tidak baik bagi klient.
f. Meminta bantuan ahli lain di luar kemampuan stafnya yang diperlukan dalam bimbingan.
g. Pembimbing hendaknya menyadari tanggung jawab dan pengabdian sepenuhnya.

0 comments

Poskan Komentar

 

My Blog List

Followers